Sang Eskalator Menambah ‘Anak Tangga’ Baru

Tanggal 1 April menjadi hari yang diperingati seluruh masyarakat dunia sebagai the first April fool, tapi tidak untuk para Stairs Eskalator. Hari itu adalah hari bangkitnya semangat-semangat baru yang akan  berkobar lebih panas. Bertempat di Coffee Time, dengan resmi para old Stairs telah memilih new Stairs sebagai the next Eskalator team yang siap mengguncang dunia dengan cara mereka sendiri. 

Proses seleksi yang dilakukan tidaklah mudah, karena ada beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan sehingga terpilihlah lima new Stairs. Tahap pemilihan ini tidak dipublish dengan tujuan untuk menilai para kandidat secara efektif, tidak heran ada beberapa kandidat yang terkejut kenapa dirinya yang bisa terpilih. Kriteria utamannya adalah progress para kandidat dari awal mereka berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Eskalator, hingga sekarang.

Selanjutnya adalah rekomendasi para dosen yang juga mengajukan beberapa pilihan kandidat karena para dosen inilah yang lebih jeli melihat potensi dan kemampuan para kandidat ketika di kelas perkuliahan. Pertimbangan lainnya juga adalah rekomendasi dari para old Stairs, “kami tidak hanya menilai dari kemampuan intelektual mereka, tapi kami juga melihat seberapa unik karakter dari masing-masing kandidat,” ujar Pricilla selaku ketua komunitas Eskalator. Pricilla menjelaskan bahwa pertimbangan utama mereka adalah ciri khas karakter setiap kandidat, memiliki jiwa inovatif, dan berpola pikir kreatif. Penentuan kriteria ini bertujuan untuk mengembangkan komunitas menjadi lebih baik untuk ke depannya.

Jadi, siapa sajakah para anak tangga yang baru terpilih? Here they are:

1. Alfian Condro Guritno

Condro yang memiliki badan besar dan tinggi ini sangat tertarik di bidang audio visual dan advertising. Sepintas Condro terlihat seperti preman di masa SMA yang suka malakin adik kelasnya, tapi setelah mengenal lebih dekat stigma itu berubah 360 derajat, karena Condro adalah seorang pengagum CL, salah satu personil girl band Korea, 2ne1. Siapa sangka juga Condro adalah seorang comic dan pernah beberapa kali tampil di atas panggung stand up comedy.

2. Andi Sutrisno Tomi

Mahasiswa asal ambon ini menyukai hal-hal yang berbau public relation dan advertising.  Tomi telah mengikuti beberapa organisasi di kampus, menjadi pejabat di lembaga intra jurusan komunikasi, dan tergabung dalam klub penggemar fotografi. Teman-temannya berpendapat bahwa Tomi selalu berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal dalam setiap kegiatan, dan terkadang dia akan sangat malu jika kegiatannya tidak berjalan sukses. 

3. Arinda Hutamawati

Senada dengan Tomi, Arinda pun sangat tertarik dengan public relation dan advertising. Dia pun menjabat sebuah kedudukan penting di lembaga intra jurusan komunikasi. Arinda juga sangat jago di bidang tarik suara, tidak heran dia sering memenangkan berbagai lomba vokal grup. Beberapa orang menilai Arinda selalu memberikan progress yang cepat untuk setiap tugas yang dia kerjakan. Status sedang berpacaran tapi seperti bersaudara.

4. Fikri B. Zakaria

Mulanya Fikri tertarik dengan jurnalistik, tapi entah kenapa saat ini dia justru cinta dengan public relation. Fikri lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus, seperti event kampanye earth hour, Couch Surfing, Travellounge, dan lain-lain. Fikri memiliki keahlian di bidang desain grafis. Dia adalah seorang backpacker yang memiliki ambisi untuk mengelilingi dunia, dia juga sangatlah cinta dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Indonesia.

5. Galuh Ardi Nugroho

Ardi memiliki keinginan untuk mengkolaborasikan public relation dan audio visual. Dia memiliki pengalaman yang cukup matang, pernah menjadi salah satu employee di sebuah perusahaan web designer. Menurutnya iklan itu adalah sebuah anugerah, karena hanya di iklan, artis idolanya dapat tersenyum manis terus-menerus, dan tidak akan menangis seperti di sinetron. Jika handphonenya memiliki silent mode, maka Ardi memiliki fighting mode.

Selamat untuk para anak tangga baru Eskalator! Semoga dengan terpilihnya kelima new Stairs akan membuat komunitas Eskalator tetap terus produktif menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Untuk teman-teman yang tidak terpilih jangan berkecil hati, karena new Stairs ini adalah mereka yang akan bertugas untuk mengembangkan komunitas. Jadi, komunitas Eskalator masih terbuka luas untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi di berbagai kegiatan Eskalator, seperti diskusi, event, kompetisi, dan lain-lain ;)

photo

Ikuti lomba Nulis Marketing, menangkan dua Samsung Galaxy Tab.

more info: www.ads.marketing.co.id

Ikuti lomba Nulis Marketing, menangkan dua Samsung Galaxy Tab.

more info: www.ads.marketing.co.id

photo

SEMINAR NASIONAL PERHUMAS MUDA MALANG RAYA 

“Keterbukaan Informasi Publik Sebagai Proses Pembentukan Pemimpin Masa Depan”

SEMINAR NASIONAL PERHUMAS MUDA MALANG RAYA 

“Keterbukaan Informasi Publik Sebagai Proses Pembentukan Pemimpin Masa Depan”

Dunia Komunikasi versi Cowok Pedekate ke Cewek

  • “Hai cantik, aku adalah lelaki yang baik” - itu adalah direct marketing
  • Nyuruh orang lain samperin si cewek trus ngomong, “hay, lihat cowok itu? Dia cowok yang baik” - itu adalah advertising
  • Memberikan minuman segar ke cewek cantik di siang bolong, ngajak doi makan malam bareng, abis itu kasih dia kartu ucapan: “Halo cantik, tahu gak? Aku adalah cowok yang baik” - itu adalah public relation
  • Esok harinya bertanya ke cewek cantik itu, apa si doi ceritain ke temen-temenya tentang kamu cowok yang baik - itu adalah word of mouth
  • Foto-foto makan malam dengan si cewek cantik diupload ke facebook dan twitter, ditag ke dia, diretweet, dilike, dimention - itu adalah social media marketing
  • Melakukan cara-cara di atas ke semua cewek-cewek cantik - itu adalah viral marketing
  • Kamu lagi sendirian tiba-tiba ada cewek cantik samperin kamu trus ngomong, “jadi aku denger kamu cowok yang baik ya?” - itu adalah brand recognition

Manakah caramu? ;)

Source - Robert Redl 

quote

"Dalam public relation, 48 jam itu sangat lama"
Marni (You Again)

(Source: inalmuhammad)

Salam Hangat Kembali dari Kami.

Halo stairs, lama tidak bersua. Apa kabar semuanya? Banyak hal yang kami lakukan dalam kurun waktu terakhir ini, sehingga blog ini jadi agak terbengkalai. Maka dari itu kami mohon maaf atas semua kesalahan, ketidaknyamanan dan ketidak-konsistenan yang telah kami lakukan. Yah, pasitlah kita akan bersembunyi di balik nama mahasiswa yang mengatas-namakan kata ‘belajar’ untuk semua ini.

Itu sebabnya sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya, berulang-ulang dari hati yang sedalam-dalamnya. Meskipun Idul Fitri sudah lewat, tapi tidak kata terlambat untuk minta maaf kan? Apalagi Idul Adha sebentar lagi, bisa minal aidin lagi dong, hehehe. 

Anyway, kami mohon doa dan dukungan dari teman-teman semuanya agar kami bisa berusaha untuk tetap konsisten lagi seperti yang dulu. Konsisten dalam berbagi informasi, pengetahuan dan wawasan seputar PR dan dunia komunikasi.

Stairs, terimalah salam hangat dari kami untuk memulai kembali hangatnya persaudaraan antara kita semua dalam hangatnya berkompetisi, hangatnya berdiskusi, hangatnya bercengkrama bersama, dan semuanya ;)

Mari Mem-branding Diri di Twitter

Twitter telah menjadi situs jejaring sosial di internet terpopuler ke-3 setelah Facebook dan MySpace. Data hingga akhir tahun lalu menyebutkan, lebih dari satu juta orang memiliki akun di Twitter dan 200 ribu di antaranya secara aktif mengirim lebih dari 3 juta posting per hari.

Memasuki tahun 2010, analis Twitter Kevin Weil memperkirakan, jumlah twit per hari tak kurang dari 50 juta, lompatan yang luar biasa dari angka pada 2007 (5000 twit per hari) dan 2008 ( 300 ribu twit per hari). Twitter diluncurkan pertama kali pada Agustus 2006.

Angka-angka tersebut mengindikasikan adanya lalu lintas informasi yang fantastis. Twitter menjadi sebuah pasar besar informasi bebas yang memaksa kaum pemasar dan kalangan bisnis secara umum untuk melirik dan memperhitungkannya sebagai media baru untuk kepentingan-kepentingan komersial.

Di Indonesia kita melihat, dari hari ke hari mulai banyak produk-produk, brand, organisasi yang masuk ke Twitter. Ini belum termasuk kampanye-kampanye marketing dan branding jangka pendek yang juga memanfaatkan Twitter sebagai alat untuk menjangkau audiens. Termasuk, individu-individu artis, seniman, politikus, kandidat pimpinan daerah yang mencoba bereksperimen dengan mikroblogging untuk personal branding.

Sebenarnya, disadari atau tidak, sebagian besar aktivitas di Twitter pada dasarnya mengarahkan individu untuk melakukan personal branding. Ungkapan yang sering kita dengar adalah, “you are what you tweet”. Sekarang, ungkapan tersebut banyak dimodifikasi, salah satunya yang sering dikatakan adalah, “twit-mu harimau-mu”. Maknanya kira-kira bahwa persepsi orang lain atas diri kita terbentuk lewat rangkaian twit kita.

Bagi orang-orang “biasa” yang memang tak terlalu memiliki kepentingan terhadap politik pencitraan publik layaknya seorang politikus atau artis, personal branding mungkin bukan isu utama ketika “bermain” di Twitter. Namun, bayangkan seorang Luna Maya. Sekali dia mem-posting pernyataan yang isinya memaki pekerja infotainment, orang dengan mudah menyimpulkan bahwa itulah –setidaknya salah satu– karakter “asli” sang artis: pemarah. Dan, hal itu tentu saja bisa merugikan citra yang sebelumnya dia bangun sebagai seorang selebritas.

Menkominfo Tifatul Sembiring adalah contoh lain yang lebih gamblang tentang bagaimana personal branding bekerja pada seorang tokoh di Twitter. Tak lama setelah terpilih sebagai menteri, Tifatul langsung muncul di Twitter dengan nama @tifsembiring dan mencuri perhatian orang dengan twit-twit pantunnya, yang kemudian populer dengan istilah twitun. Terlepas dari kontroversi yang terus-menerus merundung dirinya berkaitan dengan kebijakan-kebijakannya sebagai menkominfo, Pak Tif dengan “konsisten” mem-branding dirinya sebagai sosok menteri yang akrab, santai, apa adanya. Dia rajin nge-twit, menjawab setiap pertanyaan atau komentar yang ditujukan kepadanya. Semua kritik, serangan, cacimaki dia tanggapi dengan tekun.

Orang boleh tidak setuju dengan Pandji Pragiwaksono (@pandji), yang belakangan dianggap “mengkomersilkan” gerakan nasionalisme IndonesiaUnite. Tapi, konsistensi Pandji dalam memposisikan diri sebagai “juru bicara” nasionalisme kepada remaja merupakan contoh personal branding yang bagus. Ketika penggagas dan penggerak IndonesiaUnite satu per satu “mundur” dari kancah per-twitteran, Pandji terus saja bicara tentang keindonesiaan, cinta Tanah Air dan jargon-jargon heroik lainnya, yang betapa pun banalnya, kenyataannya memang masih banyak remaja yang mem-follow dia masih awam mengenai isu-isu itu.

Beberapa waktu lalu, Detikcom menurunkan berita menarik mengenai keberadaan Iwan Fals di Twitter. Dengan nada mempertanyakan, media online tersebut menjawab keraguan sementara kalangan yang sebelumnya kurang yakin bahwa @iwanfals yang ada di Twitter itu bukan Iwan Fals “asli”. Pasalnya, twit-twit Iwan terasa sangat “ngocol”, misalnya pada suatu saat dia bertanya, “LOL itu apa sih?” Dalam bahasa online, LOL adalah singkatan dari ungkapan yang menyatakan tertawa terbahak-bahak. Dengan twit-twit yang “ringan” dan spontan seperti itulah Iwan mem-branding dirinya. Dia tampil wajar, apa adanya, menjawab setiap twit yang ditujukan kepadanya, dan kalau pun sesekali mengomentari isu-isu politik dan sosial aktual, itu tetap dilakukannya dengan spontanitas yang kocak, tidak berusaha terlihat “pintar”.

Kebalikan dari contoh-contoh adalah praktisi self healing Reza Gunawan yang pernah meramaikan Twitter dengan twit serial ber-hashtag #MUINextHaram yang dimaksudkan sebagai kritik atas kecenderungan MUI yang mengharamkan hal-hal yang kurang fundamental. Ketika muncul serangan balik terhadap Reza yang dinilai mulai berlebihan dan SARA, Reza pun kemudian meminta maaf dan menyatakan bahwa semua omongannya hanya dimaksudkan sebagai joke belaka.

Saya tidak mengatakan bahwa langkah Reza meminta maaf itu salah. Dalam hal ini tidak ada benar dan salah. Melainkan, apa yang dilakukan Reza bukan contoh personal branding yang baik. Personal branding memerlukan konsistensi, yang sebisa mungkin “tanpa kompromi”. Reza yang sebelumnya “sinis”, tiba-tiba begitu “positif” dengan permintaan maafnya.

Hal yang lebih parah baru-baru ini dilakukan oleh motivator kondang Mario Teguh (MT) yang punya acara Golden Way (GW) di Metro TV. Pada Sabtu (20/2/2010) lalu, lewat akunnya di Twitter yang bernama @MarioTeguhMTGW dia mem-posting twit-serial dengan tajuk #MTOF (Mario Teguh Open Forum). Salah satu twitnya mengatakan, “Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai malam, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk tidak mungkin direncanakan sebagai istri.”

Dalam waktu singkat, twit itu menyebar dan menuai protes. Dengan tegar dan elegan, @MTGW pun membalas semua keberatan yang muncul dengan pernyataan: Orang-orang yang yang protes dan gelisah ketika mendengar nasihat yang baik adalah orang baik yang sedang berada di tempat yang salah.

Anehnya, ketegaran itu tidak dipertahankan sampai “titik darah penghabisan”. Pada hari yang sama, malamnya @MarioTeguhMTGW menghapus twit-twit serial #MTOF-nya sekaligus mem-block orang-orang yang mengkritiknya. Tindakan itu memicu komentar yang semakin “liar” dan tak terbendung, dan menjelang tengah malam @MariTeguhMTGW muncul kembali dengan pernyataan yang membenarkan bahwa pihaknya telah menghapus twit-twit yang memicu protes, sekaligus minta maaf. Tidak hanya itu, @MarioTeguhMTGW juga mengungkapkan bahwa twit-twitnya selama ini dikerjakan oleh sebuah tim moderator. Keesokan harinya, @MarioTeguhMTGW memutuskan untuk menghapus akunnya.

@MarioTeguhMTGW telah melakukan bunuh diri personal branding dengan meninggalkan arena justru ketika sedang terjadi krisis. Dia melewatkan kesempatan untuk memberikan penjelasan dan mempertanggungjawabkan pernyataannya secara meyakinkan, dengan “melarikan diri” dan membiarkan lalu lintas informasi dikuasai sepenuhnya oleh para pemrotesnya.

Kita sudah terlalu sering mendengar bahwa konversasi adalah kata kunci dalam ber-social media. Mungkin karena terlalu seringnya mendengar itu, kita jadi luput menangkap maknanya. Dalam keadaan krisis, konversasi menemukan titik urgensinya secara nyata, untuk mengklarifikasi segala ketidakpastian. Minta maaf memang penting, termasuk dalam kasus Mario Teguh. Tapi, sekali lagi, dalam ber-social media, isunya bukan itu. Pertama dan utama, pastikan bahwa Anda sendiri yang meng-handle akun Twitter Anda, salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan nama asli Anda sendiri. Jangan rancukan antara brand personal Anda dengan perusahaan atau partai Anda. Pengalaman menunjukkan, bahwa hanya manusialah yang bisa nge-twit, seperti halnya hanya oranglah yang bisa nge-blog. Institusi, organisasi, tidak bisa melakukannya.

Kedua, putuskan sebagai apa Anda ingin dikenal. Jadilah ahli dan “narasumber” di bidang yang memang Anda kuasai dan tekuni. Script Editor pada rumah produksi MVP Pictures Ve Handojo, misalnya, bisa bicara apa saja di Twitter, tapi ada spesialisasi yang dia bangun dengan serius, yakni sebagai pereview dan perekomendasi film. Dialah orang yang berada di balik sukses word of mouth film “3 Idiots” di Twitter, yang berdampak sangat besar pada sales film tersebut. MVP adalah pihak yang mendatangkan film itu ke Indonesia, dan ketika Ve menciptakan kehebohan mengenai film itu di Twitter, dia tentu punya kepentingan. Tapi, siapa yang tahu kalau dia orang MVP? Sebab, dia melakukannya seorang diri, sebagai dirinya sendiri, @VeHandojo dan bukan sebagai misalnya @VeHandojoMVP.

Di Twitter orang lebih percaya brand personal ketimbang brand corporate.

Author: Ismujiarso

Source: http://virtual.co.id

Ekspresikan Impian Lewat Tulisan di iResolusi 2011

         

Mengawali tahun 2011, Eskalator PR Community (kelompok studi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UMM) bekerjasama dengan Kaskus Civitas Akademika UMM membuat gebrakan dengan mengadakan event bertajuk iResolusi 2011. Kegiatan yang berupa menulis diatas selembar kertas yang ditempel di mading ini bertujuan untuk mengumpulkan mimpi-mimpi, harapan dan target sivitas akademika UMM di tahun 2011. Kategori tulisan pun  beragam, antara lain: spiritual, for Indonesia, Jurusan dan Fakultas, Quotes, Hubungan, Pendidikan, Bisnis dan Karir, hingga pesan khusus yang di tujukan untuk Kampus Putih.

Ketua Pelaksana, Muhammad Khairul Anam, mengaku sangat senang melihat antusiasme warga kampus yang tidak segan-segan untuk menuangkan ekspresi mereka melalui media ini. “Ide kami sederhana saja, kami ingin memfasilitasi ekspresi teman-teman dengan cara yang menarik”, ujarnya. Khairul menjelaskan bahwa dia dan timnya sudah mempersiapkan dengan matang mulai dari konsep hingga pelaksanaannya. “Awalnya kami menyebarkan kertas-kertas khusus untuk ditulis dan ditempelkan di papan-papan yang sudah kami sediakan, lalu pada tanggal 31 Desember 2010 semuanya dikumpulkan”, terangnya.

Pattama Sriangtong, mahasiswa asal Thailand yang sedang mengikuti program Darmasiswa (BIPA) di UMM juga tidak ketinggalan menuliskan harapannya. “Saya ingin kembali datang ke Indonesia lagi”, ujar Pattama yang mengaku sedih karena akhir Januari harus kembali ke Thailand karena masa studinya sudah habis.

Semua tulisan yang terkumpul dipamerkan di Lantai 1 GKB I mulai tanggal 3 hingga 7 Januari 20011. Tetapi ada tulisan yang tidak dipamerkan. ada beberapa yang disortir karena dinilai mengandung pesan yang tidak konstruktif. “Kami merasa perlu untuk menyortir tulisan-tulisan ini, karena hal-hal yang kontraproduktif akan mempengaruhi pikiran-pikiran positif para pembacanya”, pungkas Khairul.

Sumber : http://www.umm.ac.id

video

Don’t Text & Walk Or Everyone at the Mall Will Laugh at You!

5 Predictions for the Public Relations Industry in 2011

The past decade has been rough on the media industry. As media consumption has shifted online, many print publications have struggled to adjust their editorial approach, advertising infrastructure and revenue models to accommodate a rapidly changing readership. During this time, quite a few online-only news sites also entered the market. With no legacy advertising infrastructure to deal with, lower overhead costs and startup agility, these new competitors began to attract viewers — and ad dollars — from traditional publications. Many publications have had to downsize, and reporters must now cover more beats and file more stories than ever before.

The recent social revolution changed the game again. Our social networks have taken on the role of crowdsourced news editors. Instead of going directly to websites to scan for news, we frequently only see bite-sized news headlines that have been posted or retweeted by our trusted sources. When we do go directly to a site, we’re now relying more on news aggregators such as TechMeme, or getting the scoop on what’s trending from sites such as Tweetbeat.

Today, mobile devices are sparking another big shift in media infrastructure, with the iPad in particular set to become the centerpiece of media strategies for top print publications such as The New York Times, The Wall Street Journal and USA Today.

As the media changes, so too must the practice of public relations. In light of these evolving dynamics, what should savvy PR practitioners be thinking about as they’re building plans for 2011? Here are a few trends to watch in the coming year.


1. Social Sharing of News


In a recent article on Forbes.com, entrepreneur Dan Greenberg asserted that the web has evolved from a network of sites to a network of people. And because you can’t put ads on people, you must now focus on creating content that people will want to consume and share. The same holds true for PR, and next year, we will see more PR strategies that put social sharing at the forefront.

News releases will have more attention-grabbing or controversial headlines to drive more retweets. We’ll see more pitches that seek to seed a contrarian view or spark controversy, both of which will have a better chance of being shared than straight news. There will be more aggressive outreach to influencers on Twitter to ask them to tweet about news, and more strategies to provide incentives to tweet or post to Facebook. And PR professionals will be under more pressure to measure program success using social sharing metrics.


2. Increase in “Direct Editorial”


As media companies overhaul their revenue models, many have moved beyond straightforward banner-style advertising to offer new types of content-driven ad experiences, sponsored content and creative syndication partnerships. This means that the need for content has never been greater. But with staffing levels still low, there will be even more opportunities in the coming year for company execs to contribute their own thought leadership pieces and educational articles to prominent publications.

We can also expect to see more corporate blogging in 2011. While just a few years ago, many companies shied away from blogging because it was so difficult to promote the content and actually get people to read it, it’s now easier than ever to promote blog content to a targeted audience through social media. And, the shake-up in the media industry has produced a large number of talented freelance writers to support these efforts.


3. Greater Demand for Exclusives


With breaking news now posting almost instantaneously online, straight news coverage has become a commodity. When Facebook announces a redesign, you can expect to read similar stories about it on dozens of news sites the minute it hits. Many publications, as well as journalists, are now grappling with how to differentiate their coverage in this environment. Watch closely for publications shifting their editorial approach to find the right niche next year, and adjust your engagement accordingly.

Also look for increasing value being placed on exclusives as a way for journalists to offer a differentiated and unique news product. As more publications request (and even require) exclusive content, reporters will be able to invest more time in doing a “deep dive” for stories, and we’ll likely see an increase in longer, more insightful pieces.


4. Growth in Multimedia


Another point of differentiation for publications will be the use of use podcasts and video interviews to complement their print and online stories. Where appropriate, PR professionals should begin to build ideas for podcasts into their pitches to paint a more complete picture of how a story could be rolled out.

Video is also becoming a critical part of many news sites and an important asset for PR to provide to busy reporters, particularly as publications focus on creating visually rich content for devices such as the iPad. In 2011, expect to see more stories that include individual videos or even curated video in a slideshow or mosaic layout, such as this New York Times story about Tufts University applicants submitting YouTube videos as part of the application process.


5. Data, Graphics and Apps


Relevant stats have always been critical for validating trend stories, and with online survey tools making data gathering easier than ever, many PR pitches are now already accompanied by original research. In 2011, with news outlets hungry for visuals but short on resources, look for the presentation of this data to become more sophisticated, with PR teams working to develop infographics and other visuals to make their data pop. And in our app-happy world, also expect to see a slew of interactive applications to supplement stories, such as this texting and driving game that accompanied a New York Times article on the topic.

About the Author:

Leyl Master Black is a managing director at Spark PR, one of the world’s top independent PR agencies. Leyl has more than 15 years experience driving high-impact communications programs for emerging technology companies.

Sourche:

http://mashabe.com